Skip navigation

Pelajaran menulis, bagi generasi yg mengenyam pendidikan sekolah dasar pada dekade 70an akhir sampai dengan 80an akhir, pasti masih ingat dengan pelajaran ini budi. Pelajaran kelas satu untuk membaca dan menulis.

Menginjak kelas 3 sekolah dasar(kalo tidak salah ingat), ada tambahan lagi pelajaran seni menulis halus. Yaitu menulis dengan gaya “huruf latin” bersambung. Gaya menulis yang bagi sebagian generasi akhir-akhir ini sering diidentikkan dengan gaya menulis simbah. Betapa tidak? Gaya menulis tangan “latin” ini terpopulerkan dalam naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, dan selalu tertampang di buku-buku pelajaran sejarah.

Apa hubungannya dengan “huruf GEDRIK”?

Beberapa waktu lalu, saat berperan menjadi tentor dalam suatu pelatihan komputer, dengan peserta dari lingkungan berbahasa jawa, secara tanpa sadar, keluar dari mulut ucapan, “Silakan anda menuliskan nama anda secara lengkap dengan menggunakan huruf GEDRIK!”. Sebagian peserta bisa memahami apa yang saya maksud, tapi sebagian yang lain yang merupakan generasi lebih muda, menatap dengan pandangan bertanya-tanya, “apaan tuh huruf gedrik?”.

Ya begitulah perbedaan generasi, kadang bisa di identifikasikan dengan istilah kosakata yang digunakan dalam tutur bahasa dan cerita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: